Makalah Diskusi Politik Pembukaan Konferca 9

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Rabu, 30 Oktober 2013 at 00.10


AKANKAH PEMILU 2014 MENGHASILKAN PERUBAHAN?[1]
Oleh: Much Deiniatur[2]

Pendahuluan
Pemilu 2014 akan berlangsung sebentar lagi, masa depan bangsa akan ditentukan dalam proses pemilu ini. Aspek kedemokratisan dari pemilu ini ditentukan oleh mekanisme pemilu yang baik sesuai dengan undang-undang, dalam hal ini pemilu diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Disamping menentukan berbagai agenda kebangsaan ke depan, pemilu dipandang penting karena akan menentukan siapa pemimpin kita yang mampu mengentaskan Indonesia dari berbagai macam persoalan. Selama ini, dalam berbagai pengalaman yang kita miliki, pemilu hanya mampu menghasilkan penguasa yang kurang peduli terhadap rakyatnya. Pemilu-pemilu kita selama ini belum mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar dirindukan kehadirannya oleh rakyat.
  
Memilih Penguasa bukan Pemimpin
Apa perbedaan penguasa dengan pemimpin?. Penguasa adalah sosok yang meletakkan kekuasaannya semata-mata sebagai target politik yang sudah tercapai dan kurang atau tidak begitu hirau dengan permasalahan yang melilit rakyatnya. Karena itu, penguasa akan identik dengan pemihakan pada kaum yang secara ekonomi mapan, guna melanggengkan kekuasaannya.
Sedangkan pemimpin adalah sosok bijak yang berusaha keras untuk selalu memihak pada kaum miskin, dan bersikap adil terhadap segala persoalan kebangsaan. Dia akan selalu berhati-hati untuk memutuskan kebijakan yang memiliki dampak serius ditengah masyarakat[3].
            Jika penguasa berniat hanya sekedar menguasai, maka pemimpin bertujuan untuk memimpin menuju cita-cita bersama. Karena itu, dalam idiom jawa, kita mengenal istilah ing ngrsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Sayangnya, mentalitas partai politik peserta pemilu dalam menjalankan pemilu tampaknya hanya mentalitas kekuasaan. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi penguasa.
Contoh yang sangat memuakkan adalah kecenderungan untuk berbuat skandal korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan. Sejarah kita selama beberapa dekade, sarat dengan muatan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Dari segi moral, kita dihadapkan pada pertanyaan serius; mengapa para koruptor tidak pernah jera melakukan profesinya ditengah-tengah sebuah Negara yang religious berdasar Pancasila?. Itu dikarenakan system hukum kita yang masih lemah. Pelaksanaan hukuman/sangsinya pun masih ringan dan kadang tebang pilih. Seorang koruptor yang dilindungi payung pejabat, tetap merasa aman dalam petualangannya menggerogoti sendi-sendi ekonomi Negara.[4]

Kepemimpinan
Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan masalah krisis kepemimpinan. Konon sangat sulit mencari kader-kader pemimpin pada berbagai tingkatan. Orang pada zaman sekarang cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak atau kurang perduli pada kepentingan orang lain, kepentingan lingkungannya.
Krisis kepemimpinan ini disebabkan karena makin langkanya keperdulian pada kepentingan orang banyak, kepentingan lingkungannya. Sekurang-kurangnya terlihat ada tiga masalah mendasar yang menandai kekurangan ini. Pertama adanya krisis komitmen. Kebanyakan orang tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memikirkan dan mencari pemecahan masalah kemaslahatan bersama, masalah harmoni dalam kehidupan dan masalah kemajuan dalam kebersamaan. Kedua, adanya krisis kredibilitas. Sangat sulit mencari pemimpin atau kader pemimpin yang mampu menegakkan kredibilitas tanggung jawab. Kredibilitas itu dapat diukur misalnya dengan kemampuan untuk menegakkan etika memikul amanah, setia pada kesepakatan dan janji, bersikap teguh dalam pendirian, jujur dalam memikul tugas dan tanggung jawab yang dibebankan padanya, kuat iman dalam menolak godaan dan peluang untuk menyimpang. Ketiga, masalah kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Saat ini tantangannya semakin kompleks dan rumit. Kepemimpinan sekarang tidak cukup lagi hanya mengandalkan pada bakat atau keturunan.[5]


Penutup
Pemimpin zaman sekarang harus belajar, harus membaca, harus mempunyai pengetahuan mutakhir dan pemahamannya mengenai berbagai soal yang menyangkut kepentingan orang-orang yang dipimpin. Juga pemimpin itu harus memiliki kredibilitas dan integritas, dapat bertahan, serta melanjutkan misi kepemimpinannya. Kalau tidak, pemimpin itu hanya akan menjadi suatu karikatur yang akan menjadi cermin atau bahan tertawaan dalam kurun sejarah di kelak di kemudian hari.


[1] Disampaikan pada pembukaan Konferensi ke -IX HMI Cabang Purworejo pada 26 Oktober 2013
[2] Penulis adalah Sekretaris Paguyuban Ulil Albab Purworejo
[3] Benny Susetyo, Hancurnya Etika Politik. (Jakarta: Kompas, 2014). p.76
[4] Ahmad Syafii Maarif, Masa Depan Bangsa Dalam Taruhan,(Yogyakarta; Pustaka SM): 2000). p.4
[5] Nisrul Irawati, Kepemimpinan Efektif, Kepemimpinan Yang Mampu Mengambil  Keputusan Yang Tepat, (FE Universitas Sumatera Utara) p.1.

0 Responses to "Makalah Diskusi Politik Pembukaan Konferca 9"

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Blogger news


Make Widget

About the author

This is the area where you will put in information about who you are, your experience blogging, and what your blog is about. You aren't limited, however, to just putting a biography. You can put whatever you please.