Rihlah ke gua Seplawan

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Senin, 23 Februari 2009 at 19.20


Pada tanggal 22 februari lalu segenap pengurus HMI Purworejo mengadakan acara rihlah ke goa seplawan. Acara ini dimaksudkan untuk menguatkan ukhuwah sesama pengurus cabang, akan tetapi pada saat acara ternyata hanya ada beberapa orang saja yang hadir. Sejumlah pengurus yang hadir mengaku puas dengan acara tersebut. karena kebanyakan dari mereka belum pernah melihat keindahan goa seplawan tersebut. Acara dimulai dengan susur gua dilanjutkan dengan makan-makan plus diskusi diatas bukit. komentar dari teman-teman kebanyakan merasa puas dan menginginkan kalau acara tersebut lebih sering-sering aja diadakan....
deini



KADER HMI; AGENT DALAM MELAKSANAKAN MISI UNTUK MEWUJUDKAN INSAN CITA DAN MASYARAKAT CITA.

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Jumat, 13 Februari 2009 at 04.44


HMI sejak berdirinya pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta yang mempunyai tujuan mempertegak dan mengembangkan agama islam dan mempertinggi derajat rakyat dan Negara republic indonesia. seperti lazimnya organisasi yang lain, HMI mempunyai tujuan yang merupakan cita-cita besar yang hendak dicapai, sejak berdirinya HMI hingga sekarang tujuan hmi yang telah berganti samapi enam kali mempunyai cita-cita yang luhur terhadap islam. Ini bisa dilihat bahwa tujuan HMI sekarang adalah “Terbinanya Mahaiswa Islam memjadi insane ulil albab yang turut bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT”.
HMI yang berfungsi sebagai organisasi perkaderan yang bertujuan membina para anggotanya menjadi kader menjadikan focus dan obyek tujuannya adalah individu-individu mahasiswa untuk mempunyai kualifikasi tertentu yang disebut insane ulil albab, insane yang dicita-citakan HMI.
Selain berfungsi sebagai organisasi perkaderan HMI juga berfungsi sebagai organisasi perjuangan . kader-kader HMI yang telah mempunyai kualifikasi sebagai insane ulil albab mereka juga bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah.
Dan untuk mewujudkan tujuan HMI tersebut diperlukan usaha yaitu Dakwah amar ma’ruf nahi munkar, pembentukan individu- individu ulil albab, dan pembentukan masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa HMI adalah organisasi dakwah.
Berbicara tentang HMI memang ada dua hal yang harus kita perhatikan yaitu kata himpunan sendiri berarti merupakan sebuah wadah suatu kelompok umat yang sedang berdakwah. Seperti dikatakan dalam Al Qur’an Surat Ali Imran 104 dikatakan bahwa “ Dan hendaklah ada segolongan umat yang menyeru pada kebajikan,menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Sedangkan kata mahasiswa Islam, kader HMI adalah seorang muslim dan muslimat yang mempunyai kewajiban untuk berdakwah. Karena mahasiswa identik dengan kampus maka sering kali kita sebut dakwah kampus walaupun istilah ini sering diklaim oleh gerakan mahasiswa tetangga kita.
Awalnya HMI (MPO) sangat focus pada keislamanya bahkan terkenal sebagai organisasi yang fundamental, namun kini tampaknya HMI (MPO) mulai terbuka, mudah kita temui kader-kader yang berbeda-beda ekspresi keagamaanya. Ada kader yang cenderung fundamen, moderat, dan liberalpun banyak. Memang pada dasarnya HMI tidak mengatur keseragaman pemahaman Agama.
Ekspresi keagamaan masing-masing cabangpun berbeda-beda ini bisa kita lihat ada cabang yang akhwatnya memakai jilbab yang besar-besar ada juga yang cabang yang akhwatnya memakai celana jins ketat. Memang kalau kita menilai bahwa keislaman di HMI itu menurun, itu dalam kacamata siapa? Dan keislaman yang bagaimana?
Banyak kader yang kini nampaknya mulai jenuh terhadap perkaderan HMI. Perkaderan yang hanya identik dengan acara LK 1, LK 2, LK 3 dan kajian rutin tiap minggunya. Tanpa ada Inovasi kegiatan-kegiatan yang lebih modern dan elegan. Kegiatan-kegiatan seperti ceramah dan ceramah nampaknya sekarang kurang diminati oleh baik kader maupun calon kader tentunya. Hal ini dikarenakan kultur yang semakin berubah juga.
Mahasiswa kinipun banyak yang tidak tertarik dengan acara-acara kajian keislaman dan diskusi karena acara tersebut tidak berhubungan dengan materi kuliah dan tidak mempengaruhi nilai mereka. Mahasiswa kini cenderung pragmatis. Kegiatan mahasiswapun banyak yang hanya diisi dengan acara-acara hedonistic seperti hur-hura, pacaran, shoping, nongkrong dan lain-lain yang tentunya jauh dari tradisi ideal mereka sebagai mahasiswa. Kasus narkoba dan aborsi paling banyak dilakukan oleh mahasiswa karena selain mahasiswa jauh dari control orang tua juga karena pergaulan yang semakin bebas. Pernah seorang teman saya berkata bahwa kost-kostan mahasiswa itu sarang maksiat., mahasiswa yang punya kelakuan baik adalah mahasiswa yang masih mau ikut berorganisasi.
Organisasi mahasiswapun kini sepi dari aktifitas dan kreatifitas para mahasiswa. Kalaupun rame itupun paling acara teater dan pentas band.
Kampuspun sekarang kian berubah, biaya kuliah yang mahal memaksa mahasiswa untuk berusaha agar cepat lulus dan tidak mau ikut organisasi karena kuliahnya akan lama, disamping juga jadwal kuliah yang padat. Kebijakan kampuspun banyak yang kini melarang organisasi ekstra masuk kampus.
HMI sebagai organisasi bagian dari umat islam dan merupakan organisasi perkaderan sekaligus organisasi perjuangan tentunya tidak akan diam melihat realitas disekitar kita yang sedemikian parahnya. Justru inilah lahan dakwah bagi HMI, tidak disebut dakwah jika tidak ada tantangan. Lalu kiat-kiat apa sajakah yang kiranya dapat membantu kader-kader HMI dalam berdakwah?
1. Mempersegar kegiatan-kegiatan yang ada di HMI.
Hal ini saya rasa yang perlu kita perhatikan agar kegiatan-kegiatan di HMI tidak membosankan, kita perlu adanya inovasi, kreatifitas, dan unik akan tetapi tidak meninggalkan subtansi dan nilai-nilai ajaran islam. Acara-acara yang kiranya sekarang popular seperti Out Bound, tadabur alam, Bedah film, dan lain-lain.
2. Berani, ulet, kerja keras, tawakal, dan istiqomah (BUKTI)
Kader-kader HMI harus berani berdakwah dimanapun dan kapanpun dengan menanggung segala resiko yang ada. Berani mengatakan yang haq itu haq dan yang batil adalah batil, disamping itu kita harus ulet tidak gampang menyerah keika mendapat cobaan. Ketika mendapat cobaan hendaknya kita memohon bantuan, bimbingan , dan pertolongan Allah. Dan yang tak kalah penting adalah kita harus komitmen terhadap perjuangan dakwah kita. Janganlah kita sombong terhadap apa yang telah kita perbuat, akan tetapi janganlah diam ketika kemungkaran terjadi.
3. Kader HMI adalah calon pemimpin umat.
Ketika kita melihat pluralitas di HMI, saya rasa ini merupakan kelebihan bagi HMI. Kader-kader HMI yang sudah terbiasa dengan kondisi pluralitas akan tidak kaget ketika besok menjadi pemimpin di masyarakat yang plural. Mereka sudah terbiasa bagaimana memanaj kader-kader yang berbeda-beda tingkahnya.
4. Melek Media bagi kader HMI
Kader-kader HMI tidak boleh ketinggalan zaman, kita harus dapat menguasai dan memanfaatkan media sebagus mungkin. Media sebagai alat dakwah sangat penting gunanya dalam meningkatkan kualitas dakwah kita.
Mengingat banyaknya peran strategis yang dimiliki oleh HMI dalam berdakwah, program dakwah HMI mestinya dirancang secara sistematis dan terstruktur mulai dari Komisariat sampai Pengurus Besar. Dakwah bukan hanya saja milik LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam) akan tetapi merupakan tanggung jawab semua umat islam untuk menegakkan nilai-nilai islam dimuka bumi ini.

Di tulis oleh : Much Deiniatur (Kader HMI Purworejo)


Melacak “Akar” Ideologi Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Senin, 02 Februari 2009 at 23.05

Keberadaan gerakan mahasiswa dalam konstelasi sosial politik di negeri ini tak bisa dipandang sebelah mata. Diakui atau tidak, keberadaan mereka menjadi salah satu kekuatan yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni negara. Diantara elemen-elemen gerakan mahasiswa yang memiliki pengaruh signifikan adalah gerakan mahasiswa Islam.
Mereka adalah organisasi massa (ormas) mahasiswa yang memiliki basis konstituen yang jelas dan massa pendukung yang besar seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Dipo, HMI MPO, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Pada sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa gerakan mahasiswa mengalami polarisasi dalam entitas dan kelompok-kelompok tertentu yang berbeda, bahkan acapkali bertentangan satu sama lain. Hal ini terjadi karena beberapa faktor yang melingkupinya, seperti perbedaan ideologi, strategi dan lainnya.
Dalam konteks ini, upaya memahami ideologi gerakan mahasiswa merupakan hal yang sangat penting. Apabila ditelisik, persoalan ideologi merupakan pusat kajian ilmu sosial.[1] Namun hingga kini, kajian tentang ideologi khususnya dalam ranah ilmu-ilmu sosial sangat minim. Apalagi ideologi dalam konsteks gerakan mahasiswa. Maka, permasalahan yang akan dikaji selanjutnya adalah apa dan bagaimanakah ideologi gerakan mahasiswa Islam di Indonesia?


Ideologi Dalam Keterbatasan Akar Konseptual

Menurut Frans Magnis Suseno,[2] ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan. Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Dalam konteks inilah kajian ideologi menjadi sangat penting, namun seringkali diabaikan.

Istilah ideologi adalah istilah yang seringkali dipergunakan terutama dalam ilmu-ilmu sosial, akan tetapi juga istilah yang sangat tidak jelas. Banyak para ahli yang melihat ketidakjelasan ini berawal dari rumitnya konsep ideologi itu sendiri. Ideologi dalam pengertian yang paling umum dan paling dangkal biasanya diartikan sebagai istilah mengenai sistem nilai, ide, moralitas, interpretasi dunia dan lainnya.

Menurut Antonio Gramsci,[3] ideologi lebih dari sekedar sistem ide. Bagi Gramsci, ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis. Artinya ideologi ‘mengatur’ manusia dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak, mendapatkan kesadaran akan posisi mereka, perjuangan mereka dan sebagainya.

Secara sederhana, Franz Magnis Suseno[4] mengemukakan tiga kategorisasi ideologi. Pertama, ideologi dalam arti penuh atau disebut juga ideologi tertutup. Ideologi dalam arti penuh berisi teori tentang hakekat realitas seluruhnya, yaitu merupakan sebuah teori metafisika. Kemudian selanjutnya berisi teori tentang makna sejarah yang memuat tujuan dan norma-norma politik sosial tentang bagaimana suatu masyarakat harus di tata. Ideologi dalam arti penuh melegitimasi monopoli elit penguasa di atas masyarakat, isinya tidak boleh dipertanyakan lagi, bersifat dogmatis dan apriori dalam arti ideologi itu tidak dapat dikembangkan berdasarkan pengalaman. Salah satu ciri khas ideologi semacam ini adalah klaim atas kebenaran yang tidak boleh diragukan dengan hak menuntut adanya ketaatan mutlak tanpa reserve. Dalam kaitan ini Franz Magnis-Suseno mencontohkan ideologi Marxisme-Leninisme.

Kedua, ideologi dalam arti terbuka. Artinya ideologi yang menyuguhkan kerangka orientasi dasar, sedangkan dalam operasional keseharianya akan selalu berkembang disesuaikan dengan norma, prinsip moral dan cita-cita masyarakat. Operasionalisasi dalam praktek kehidupan masyarakat tidak dapat ditentukan secara apriori melainkan harus disepakati secara demokratis sebagai bentuk cita-cita bersama. Dengan demikian ideologi terbuka bersifat inklusif, tidak totaliter dan tidak dapat dipakai untuk melegitimasi kekuasaan sekelompok orang.

Ketiga, Ideologi dalam arti implisit atau tersirat. Ideologi semacam ini ditemukan dalam keyakinan-keyakinan masyarakat tradisional tentang hakekat realitas dan bagaimana manusia harus hidup didalamnya. Meskipun keyakinan itu hanya implisit saja, tidak dirumuskan dan tidak diajarkan namun cita-cita dan keyakinan itu sering berdimensi ideologis, karena mendukung tatanan sosial yang ada dan melegitimasi struktur non demokratis tertentu seperti kekuasaan suatu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.

Dari beberapa fungsi tersebut, terlihat bahwa pengaruh ideologi terhadap perilaku kehidupan sosial berkaitan erat. Memahami format sosial politik suatu masyarakat akan sulit dilakukan tanpa lebih dahulu memahami ideologi yang ada dalam masyarakat tersebut. Dari sinilah terlihat betapa ideologi merupakan perangkat mendasar dan merupakan salah satu unsur yang akan mewarnai aktivitas sosial dan politik.


Sepintas Gerakan Mahasiswa Islam di Indonesia

Dalam sejarah perjalanan bangsa pasca kemerdekaan Indonesia, mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Tumbangnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan terakhir pada runtuhnya Orde baru tahun 1998 adalah tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.

Menurut Arbi Sanit,[5] ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.

Disamping itu ada dua bentuk sumber daya yang dimiliki mahasiswa dan dijadikan energi pendorong gerakan mereka. Pertama, ialah Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian. Kedua, sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa[6]. Kedua potensi sumber daya tersebut ‘digodok’ tidak hanya melalui kegiatan akademis didalam kampus, tetapi juga lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi.

Di Indonesia terdapat lima organisasi mahasiswa ekstra universitas atau sering dinamakan ormas mahasiswa, yang cukup menonjol, yaitu HMI Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Kesemuanya menarik untuk dikaji karena sama-sama membawa label Islam sebagai identitas organisasinya, namun memiliki corak wacana dan strategi perjuangan yang khas. Berikut sekilas perjalanan dari ormas mahasiswa Islam tersebut:



1. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Dipo

HMI lahir ditengah-tengah suasana revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta. Lafran Pane dan kawan-kawan merasa prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang terpecah-pecah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik serta jurang kemiskinan dan kebodohan. Oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk mengambil peranan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian didirikanlah wadah perkumpulan mahasiswa Islam yang memiliki potensi besar bagi terbinanya insan akademik, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah.

Dalam perjalanannya, HMI telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa. Hampir di sepanjang pemerintahan Orde Baru selalu ada mantan kader HMI yang duduk di kabinet. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran signifikan HMI dalam keikutsertannya menumbangkan Orde Lama serta menegakkan Orde Baru. Selain itu, sebagai ormas mahasiswa Islam yang independen dan bergerak dijalur intelektual, tidak jarang HMI melahirkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia. Beberapa kader HMI bahkan sering melontarkan wacana pemikiran Islam yang mengundang kontroversi. Misalnya saja wacana sekulerisasi agama yang diungkapkan Nurcholish Madjid melalui slogannya yang terkenal “Islam Yes, Partai Islam No!.”



2. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya mendirikan sebuah organisasi sebagai wadah pergerakan angkatan mudanya dari kalangan mahasiswa yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pada perkembangannya di awal tahun 1970-an PMII secara struktural menyatakan diri sebagai organisasi independen, terlepas dari ormas apa pun, termasuk dari sang induknya, NU.[7]

Pada masa pergerakan mahasiswa 1998, menjelang peristiwa jatuhnya Soeharto, PMII bersama kaum muda NU lainnya telah bergabung dengan elemen gerakan mahasiswa untuk mendukung digelarnya people’s power dalam menumbangkan rezim Soeharto. Sikap ini telah jauh mendahului sikap resmi kiai senior NU yang lebih konservatif yakni senantiasa menjaga kedekatan dengan pusat kekuasaan untuk membela kepentingan pesantren. Di jalur intelektual PMII banyak mengembangkan dan mengapresiasikan gagasan-gagasan baru, misalnya mengenai hak asasi manusia, gender, demokrasi dan lingkungan hidup.



3. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Ketika situasi nasional mengarah pada demokrasi terpimpin yang penuh gejolak politik di tahun 1960-an, dan perkembangan dunia kemahasiswaan yang terkotak-kotak dalam bingkai politik dengan meninggalkan arah pembinaan intelektual, beberapa tokoh angkatan muda Muhammadiyah seperti Muhammad Djaman Alkirdi, Rosyad Soleh, Amin Rais dan kawan-kawan memelopori berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964.

Sebagai organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah sifat dan gerakan IMM sama dengan Muhammadiyah yakni sebagai gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar. Ide dasar gerakan IMM adalah; Pertama, Vision, yakni membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Strategi pendekatan yang digunakan IMM ialah melalui pemaksimalan potensi kesadaran dan penyadaran individu yang memungkinkan terciptanya komunitas ilmiah.

Kedua, Value, ialah usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga terbangun pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al Qur’an. Ketiga, Courage atau keberanian dalam melakukan aktualisasi program, misalnya dalam melakukan advokasi terhadap permasalahan masyarakat dan keberpihakan ikatan dalam pemberdayaan umat[8].



4. Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO)

Kebijakan pemerintah memberlakukan asas tunggal Pancasila sebagai satu-satunya dasar ormas mendapat tantangan yang cukup beragam dari kalangan umat Islam. Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) sebagai organisasi pecahan/faksi dari HMI yang disebutkan sebelumnya, terlahir akibat konflik berkepanjangan dalam menyikapi penerimaan asas tunggal tersebut. PB (Pengurus Besar) HMI melalui jumpa pers pada 10 April 1985 di Yogyakarta mengumumkan tentang penerimaan asas Pancasila oleh HMI. Sikap ini dinilai sebagian cabang seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Ujungpandang, Purwokerto sebagai kesalahan besar PB HMI karena tidak melalui forum kongres. Konflik tersebut berujung pada munculnya perlawanan dari cabang-cabang yang kemudian melahirkan HMI MPO pada 15 Maret 1986 di Jakarta, sebagaimana tercantum dalam buku Berkas Putih yang terbit 10 Agustus 1986[9].

Setelah beberapa tahun HMI MPO lebih banyak melakukan aktifitas gerakannya secara sembunyi-sembunyi, pada tahun 1990-an ketika pemerintah mulai menjalin hubungan baik dengan Islam, HMI MPO mulai nampak kembali kepermukaan. Di beberapa daerah yang merupakan basis HMI MPO seperti Yogyakarta, Bandung, Ujungpandang dan Purwokerto kader-kader mereka cenderung radikal dan lebih militan. Pada kenyataannya represi negara justeru membuat HMI MPO menjadi lebih matang dan kuat.

HMI MPO sendiri sedikit mengalami pergeseran, jika pada awalnya gerakan mereka cenderung fundamentalis dan eksklusif. Pada akhirnya mereka mulai terbuka dengan memperluas cakrawala pengetahuan sehingga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. Tidak heran jika banyak yang menilai HMI MPO sebagai organisasi Islam yang lebih modernis saat ini.



5. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

KAMMI terbentuk dalam rangkaian acara FS LDK (Forum Sillaturahmi Lembaga Da’wah Kampus) Nasional X di Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 25-29 Maret 1998. Setidaknya ada dua alasan terbentuknya KAMMI, pertama, sebagai ekspresi keprihatian mendalam dan tanggung jawab moral atas krisis dan penderitaan rakyat yang melanda Indonesia serta itikad baik untuk berperan aktif dalam proses perubahan. Kedua, untuk membangun kekuatan yang dapat berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral kepada pemerintah.[10]

Selanjutnya bersama elemen gerakan mahasiswa lainnya, KAMMI melakukan tekanan terhadap pemerintahan Orde Baru melalui gerakan massa. Dalam pandangan KAMMI, krisis yang terjadi saat itu adalah menjadi tanggung jawab pemimpin dan pemerintah Indonesia sebagai pengemban amanah rakyat. Karena itu untuk memulai proses perubahan tersebut mesti diawali dengan adanya pergantian kekuasaan. Rezim Orde Baru dengan segala macam kebobrokannya, harus diganti dengan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Setelah tidak kuat menahan desakan rakyat, akhirnya Soeharto dengan terpaksa meletakkan jabatannya. Namun bagi KAMMI, proses reformasi di Indonesia belumlah selesai, masih membutuhkan proses yang panjang. Lewat Muktamar Nasional KAMMI yang pertama, 1-4 Oktober 1998, KAMMI memutuskan diri berubah dari organ gerakan menjadi ormas mahasiswa Islam. Peran utamanya adalah untuk menjadi pelopor, pemercepat dan perekat gerakan pro-reformasi.

Ketika Aktivis Harus Jatuh Cinta

Written by HMI CABANG PURWOREJO on at 22.58

Dakwah bagaikan cahaya yang terpantul dari kedalaman senyawa dalam dada. Cahayanya terpantul karena banyaknya kaca hati yang terserak, menyertai segenap duka yang terpupuk atas nama surga.
Semakin banyak kaca hati yang terserak mampu melunturkan waktu yang kian menipis di kisi-kisi senja. Berharap cepat kembali demi sebuah cinta.
Bagi seorang aktivis, dakwah merupakan sebuah jalan panjang menuju surga-Nya yang penuh onak dan duri. Tidak akan disebut berdakwah ketika seorang aktivis tidak menemui cobaan dalam berdakwah. Karena memang cobaan adalah bagian dari dakwah itu sendiri dan Allah akan selalu menguji kesungguhan hati orang-orang yang telah berani mengatakan bahwa mereka beriman.
Banyak aktivis yang telah berhasil melewati berbagai fase cobaan dalam rentang dakwahnya yang panjang. Aktivis ini telah membuktikan dirinya di hadapan kaum muslimin dan Rabb bahwa dengan keteguhan hati dan kesabarannya telah berhasil melakukan terobosan-terobosan dakwah yang penuh strategi dalam melawan kebatilan. Aktivis ini menjadi tumpuan dakwah di tempatnya berada karena dapat dipercaya dan amanah dalam melaksanakan berbagai agenda. Ia layak digelari mujahidullah peradaban karena mampu bertahan dengan cobaan dakwah yang menyangkut strategi dalam melawan kebatilan.
Tetapi seringkali aktivis itu tidak menyadari bahaya cobaan yang sedang menerpa hatinya. Hatinya yang rapuh sering tergelincir dengan cinta terhadap lawan jenis yang tumbuh dari kebersamaan mereka dalam dakwah yang panjang dan penuh cobaan. Ta'awun yang mereka lakukan seringkali menimbulkan benih-benih terpendam. Lalu diam-diam mereka pupuk di dalam hati hingga akhirnya bunga bermekaran di mana-mana.
Sayangnya, bunga itu bukanlah bunga mawar yang indah... Bunga itu tumbuh bukan dari keimanan, melainkan dari pandangan mata dan nafsu yang pelan-pelan merusak hati lalu menggerogoti jiwa yang lemah. Jiwa itu kini menjadi rapuh, merusak seluruh niat yang tersampir di dada lalu akhirnya merobohkan sendi-sendi dakwah.
Walaupun begitu, sulit sekali untuk melepaskan ‘dia' yang telah bersemayam di dada, jauh melebihi Dia yang selama ini selalu bersama kita dengan penuh cinta. Bagaimana bisa melupakannya begitu saja? Ketika seorang aktivis dakwah telah terlalu lama menancapkan panah-panah pandangan mata ke arah ‘dia' yang tampak indah dengan segala gerik dakwahnya, sedangkan Dia-Rabb yang selalu ada untuk kita tak pernah sekalipun menampakkan wujud-Nya, tentu saja sosok'nya' jadi lebih bermakna.
Kita takut tegas padanya karena sebelumnya telah terbayang wajahnya yang memelas. Kita jadi takut berbuat salah padanya karena telah terbayang wajahnya yang merah padam. Sekarang di dalam pikiran hanya ada wajahnya dimana-mana! Inilah bahaya kalau para aktivis mengurangi porsi ghadul bashar pada lawan jenis...
Lalu setelah berusaha ghadul bashar dan meluruskan niat lagi, datang cobaan dari lingkungan sesama aktivis dakwah. Yang anehnya lagi, lingkungan aktivis kadang malah mendukungnya. Mereka ucapkan kata-kata penggoda untuk membuatnya merasa bahwa sosok ‘itu' juga pantas disandingkan dengannya. Hati yang telah kokoh dibentengi keimanan kepada Allah itu akhirnya kandas juga dimakan api asmara yang datangnya dari sesama para aktivis dakwah.
Terkadang lingkungan aktivis dakwah sekalipun juga dapat menjerumuskan ketika orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri kurang bisa menjaga hati dan pandangannya. Benar-benar cobaan yang dahsyat! Harapan dan kenyataan untuk menggapai surga-Nya telah terkotori oleh cobaan cinta dari lawan jenis yang tidak mampu dimaknai sesuai porsinya. Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing dakwah yang terserak, roboh terkena badai cinta.
Cinta... tiada satu pun di dunia ini yang menafikan karena cinta sendiri merupakan senyawa yang menjadi fitrah manusia sejak dia ada. Sekarang, permasalahan yang muncul adalah apakah kita bisa menumbuhkan benih cinta yang ada di dalam hati sesuai dengan porsinya? Apakah kita mampu mensinkronisasikan cinta dengan dakwah yang telah menjadi darah daging kita sendiri? Ataukah kita memisahkan cinta dengan dakwah lalu jatuh terluka karena telah mencabik-cabiknya dari nyawa? Kita letakkan harapan pada hamba, yang bahkan masih mengeja makna cinta. Sedangkan cinta hanya mau berharap pada Ilahi Rabbi-Tuhan yang telah menjadikannya ada.
Andaikan kita menjadi seorang aktivis yang telah jatuh cinta pada seorang pengemban dakwah lainnya, apakah kita adalah orang yang lantas tergelincir dari jalan dakwah ataukah kita mampu bertahan lalu menjaga cinta kita sebagai rahasia saja? Atau jangan-jangan kita biarkan cinta dan dakwah berjalan beriringan. Kita berjuang untuk Allah sekaligus untuk mendapatkan cinta dari aktivis dakwah lainnya juga. Padahal kita mengetahui hanya amal yang niat tulus karena Allah saja-lah yang diterima oleh Allah.
Wahai para pengemban risalah Allah, sadarlah... Hanya kejujuran dan ketulusan sajalah yang mampu mengalahkan semua niat yang telah ternoda di dalam dada. Ketika niat telah terkotori dan cinta telah berharap pada selain Allah, jujurlah pada Allah. Utarakan kepada Allah dengan sejujurnya keinginanmu yang sebenarnya. Jika ingin bersatu dengannya, mintalah... Pun ketika hati ini ingin diluruskan oleh Allah, dihilangkan bayang-bayang dirinya dari pikiran, maka mintalah... Jujurlah pada Allah... Kenapa kita harus menutupi hal yang tampak di hadapan-Nya?
Tulus dan jujurlah hanya kepada Allah-Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati. Karena hanya Allah saja yang mampu jujur dan tulus kepada kita. Bukan pendamping dakwah yang kita harapkan atau bahkan lingkungan yang mungkin juga sedang futur.
Lalu ketika Allah telah membalas kejujuran itu, maka saatnya untuk tulus kepada Allah. Tulus atas apapun keputusan Allah yang diberikannya kepada kita. Seandainya Allah mengabulkan doa-doa kita, anggaplah ini sebagai kado kecil dari-Nya karena kita telah jujur pada-Nya. Jika Allah mengizinkan kita bersatu dengan kekasih hati, maka tuluskan lagi niat kita hanya karena Allah. Maka insyaAllah perjalanan dakwah ini dengan kekasih hati akan lebih indah dan diridhoi oleh-Nya. Sedangkan bila Allah justru memisahkan kita dengan kekasih hati, maka kita juga harus berusaha tulus menerima segala keputusan Allah. Ini adalah keputusan terbaik dari Allah dan tiada yang bisa menandinginya. Yakinlah dengan keputusan Allah ini, maka insyaAllah penggantinya akan lebih baik dari apa yang selama ini kita bayangkan.
InsyaAllah dengan kejujuran dan ketulusan cinta ini maka aktivis dapat melangkah di jalan dakwah dengan keyakinan teguh dan kesabaran. Akivis menjadi insan yang istiqomah melangkah di jalan dakwah. Aktivis menjadi mujahid yang berhasil dari segi strategi dan segi kesucian cinta. Semoga kita semua menjadi aktivis yang mampu jujur dan tulus kepada Allah atas fitrah cinta yang telah menjadi senyawa dalam jiwa kita.

Sejarah HMI Cab. Purworejo

Written by HMI CABANG PURWOREJO on at 22.52

Tahun 1999 mahasiswa yang berada di organisasi intra kampus yang tergabung dalam senat mahasiswa mendapatkan undangan dari HMI Komisariat Ahmad dahlan Magelang untuk mengikuti Latihan Kader I (LK I).
Latihan Kader diselenggarakan di Panti Asuhan Muhammadiyah Trasan, magelang pada tanggal 31 Juni-4 Juli 1999. Surat dilayangkan oleh ketua Panitia Latihan Kader I Saroni dan sekretarisnya Fitrianingsih kepada Ketua Umum Badan Mahasisawa Perguruan Tinggi (BMPT) UMP. Mujib selaku ketua Senat dan sekaligus juga ketua IMM, bersama Sri Mulatsih, dan beberapa mahasiswa lainnya (penulis dan narasumber sedikit lupa naman-nama lain) mengikuti acara tersebut. Sepulang dari Batra tersebut, muncul keinginan untuk mendirikan HMI di Purworejo. Akhirnya dibentuklah HMI Komisariat Jauh dari HMI cabang Magelang di Purworejo. Setelah HMI komisariat Purworejo terbentuk, mereka sering bersilaturrahim (melakukan kontak) ke Magelang. Bahkan suatu ketika, mereka mendapati Cabang Magelang mendapatkan tempat untuk menggelar Stand di acara Dies Natalisnya Universitas Tidar Megelang.
Di Purworejo, keinginan untuk mendirikan HMI ternyata mendapat tantangan dan perjalanan yang menrik. Tantangan pertama adalah himbauan dari pihak kampus untuk tidak mendirikan HMI di Purworejo dan cukup ada IMM saja. Karena dianggap antara IMM dan HMI memiliki cara pandang yang mirip. Tantangan ini membuat para pengurus senat memutar otak untuk membuat strategi agar HMI bisa eksis hingga ditetapkan sebagai Cabang Penuh. Akhirnya, dalam kapasitasnya yang menguasai 3 posisi sekligus (Ketua IMM, Senat dan Tim Kerja HMI), Mujiburrahman dan kawan-kawan yang sudah mengikuti Batra di Magelang, membagi kegiatan-kegiatannya menjadi dua. Kegiatan yang berkaitan dengan kajian keislaman dikelola melalui wadah IMM, sedangkan acara-acara bedah buku melalui wadah Senat. Hal ini lebih dikarenakan kebijakan Pmebantu Rektor III UMP (Bapak Saryono), yang berstatement bahwa Senat Kampus adalah IMM, sehingga statemen ini membingungkan posisi IMM antara organisasi ekstra kampus dan intra kampus. Idealnya, IMM adalah organisasi ekstra kampus, sedangkan Senat adalah organisai Kampus.
Sebagian besar kegiatan HMI Cabang Purworejo pada masa awal berdirinya dilaksanakan di Kampus UMP. Kemudahan akses ini dikarenakan Pengurus HMI selain menjadi pengurus Senat juga pengurus IMM. Mujiburrahman dipilih kader-kader HMI Persiapan cabang Purworejo untuk menjadi Kutua Team Kerja. Ia juga menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa dan Ketua IMM Cabang Purworejo. Agenda pertama yang kemudian dolakukan untuk mensosialisasikan HMI adalah melalui pemutaran film Kilas Balik Tragedi Ambon di Auditorium UMP tanggal 9/12 Oktober 2000 dteruskan 9 dan 16 November diadakan Pertemuan Mingguan di UMP. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah awal berdirinya HMI Komisariat Purworejo dan menginduk di Cabang Magelang.
Belum lagi HMI tingkat cabang didirikan di Purworejo, tim kerja (persiapan HMI) yang sudah bergabung di Komisariat HMI Purworejo ini sekali lagi mendapatkan undangan dari HMI Cabang Wonosobo. Tanpa disadari, kali ini undangan berasal dari HMI yang berbeda dengan HMI Magelang, Bila, Mujiburrahman (Mantan Ketua Umum Cabang Purworejo periode 2001-2002) bersama pengurus senat mahasiswa UMP mengikuti Latihan Kader I (LK I) di HMI Cabang Magelang yang identik dengan HMI DIPO (sebutan untuk HMI paska perpecahan 1986 yang beralamat di jalan Diponegoro), maka pada acara yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Wonosobo adalah HMI MPO (istilah yang disematkan kepada HMI yang eksis dengan asas Islamnya).
Beberapa Mahasiswa UMP yang mengikuti forum LK I di Wonosobo diantaranya Woro Yuli A, Nur Afni, Maryadi, Mauludin, Sri Mulatsih, Ayatullah RKH., Wahidin. Sekembalinya para mahasiswa ini, terjadilah diskusi kecil soal perbedaan HMI antara HMI DIPO dan MPO. Diskusi ini menyadarkan tim kerja yang masaih menjadi komisariat HMI Cabang Magelang sadar bahwa HMI ada dua versi, yaitu HMI DIPO dan HMI MPO.
Perdebatan ini tidak berlarut-larut lama, bahkan ada keinginan untuk membuat HMI baru yang beda dari HMI DIPO dan HMI MPO. Namun, hal ini mendapat resistensi yang kuat terutama dari anggota yang mengikuti Batra di HMI Cabang Wonosobo. Nampaknya, dominasi karakter anggota HMI periode ini lebih condong ke HMI MPO. Hatta mereka (tim Kerja persiapan HMI) mengajukan usulan pengadaan Basic Training di Purworejo, guna mempersiapkan berdirinya HMI Cabang Purworejo. Batra ini dimaksudkan untuk menambah jumlah anggota HMI di Purworejo. Koordinator Team Kerja, Mujiburrahman, melayangkan surat kepada kedua HMI ini (DIPO dan MPO). Dari surat atau permintaan tersebut, mendapat respon yang berbeda dari kedua cabang, Cabang Magelang menyatakan belum siap untuk mengelola Batra dalam waktu yang singkat, sedangkan Cabang Wonosobo, dengan tegas mengaku siap kapanpun untuk mengelola Batra di Purworejo.
Akhirnya Latihan Kader I ke-I di HMI Persiapan Purworejo diselenggarakan di yayasan Nur Aminah Kutoarjo tanggal 7-10 Desember 2000, dengan tema: Netralisasi Persepsi terhadap Pluralitas Paradigma Pergerakan Islam. Ketua panitia Batra ke I adalah Maryadi, bersama Sekretarisnya Dani Istiharto. Peserta terdiri dari Darul Hikmah, Hendty Indrawaty, Yuni Nur, Nur Sholihah, erna Yuli, Lusianan A., M. Nashihuddin, Gholib, Sucilia, Sarwono, Dani Istiharto, M. Rofiq, Muhtarom. Inilah pertama kalinya panitia batra sekaligus menjadi peserta Batra. Intensitas pertemuan dan pengarahan dari HMI MPO melalui kader HMI Bulaksumur (UGM), dan perdebatan sengit di lingkup kader Purworejo, akhirnya menjadikan HMI Purworejo memilih MPO.

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Blogger news


Make Widget

About the author

This is the area where you will put in information about who you are, your experience blogging, and what your blog is about. You aren't limited, however, to just putting a biography. You can put whatever you please.