Kajian dengan Tema "Nuzulul Qur'an"

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Selasa, 16 Agustus 2011 at 20.05

Purworejo (17/08/11) HMI Cabang Purworejo menggelar kajian memperingati nuzulul qur'an di sekretariat HMI Purworejo, kemarin (16/08/11). Hadir sebagai pembicara Akhina Hartoko Susanto, Mahasiswa STAINU Purworejo. Beliau mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an adalah turunnya Al Qur'an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi Muhammad SAW. meskipun sebenarnya mengenai waktu atau tanggal tepatnya kejadian tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagian menyakini peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rabiul Awal pada tanggal 8 atau 18 (tanggal 18 berdasarkan riwayat Ibnu Umar), sebagian lainnya pada bulan Rajab pada tanggal 17 atau 27 menurut riwayat Abu Hurairah, dan lainnya adalah pada bulan Ramadhan pada tanggal 17 (Al-Bara' bin Azib) ,21 (Syekh Al-Mubarakfuriy) dan 24 (Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo' ).
Meskipun demikian hal itu tidak perlu diperdebatkan, yang penting paling tidak kita mengetahui bahwa wahyu ini diturunkan Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira, ketika tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut. wahyu yang pertama adalah Surat Al Alaq ayat 1-5.
Sementara itu menurut Akh Deni, Nuzulul Qur'an dan hari kemerdekaan RI adalah untuk
diperingati bukan untuk dirayakan. Memperingati yaitu Mengkaji dan merefleksikannya kedalam kehidupan sekarang, sedangkan merayakan identik dengan pesta dan hura-hura. Surat Al Alaq yang pada ayat pertama berbunyi bacalah, seharusnya kita refleksikan kepada kita untuk senantiasa membaca. Membaca disini bukan hanya berarti membaca Al Qur'an secara tekstual, akan tetapi kita juga harus membaca fakta-fakta sosial yang ada disekitar kita. Sebagaimana kita ketahui, meskipun Indonesia sudah 66 tahun merdeka, akan tetapi kemiskinan, korupsi, dan konflik politik masih sangat memprihatinkan. Ini menjadi tantangan generasi muda sebagai Agent of Change. Minimal generasi muda dapat menyuarakan kebenaran, meskipun hanya lewat diskusi ataupun tulisan.
Acara ini berakhir dengan ditandainya bedug maghrib, kemudian dilanjutkan dengan acara buka bersama. Buka bersama dengan hasil masakan kader merupakan saalah satu perkaderan yang efektf untuk memupuk kebersamaan dan militansi kader untuk makan seadanya.

HMI Purworejo gelar Raker

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Rabu, 10 Agustus 2011 at 03.29

Purworejo (10/08/11) HMI Cabang Purworejo menggelar Rapat Kerja hari ini, Rabu,10 Agustus 2011. Acara ini dihadiri oleh 90% pengurus HMI cabang Purworejo yang diadakan di sekretariat HMI Cabang purworejo. Acara yang dipimpin oleh Akhi Fidi Finandar berlangsung dinamis dan pengurus tampak antusias mengikutinya.

Pengurs HMI Purworejo sendiri terdiri dari empat bidang yaitu PPU (Pembinaan dan Pelatihan umum), PTK (Perguruan Tinggi dan kemahasiswaan), PWM (Pengembangan Wacana dan Media), dan Kemuslimahan. Masing-masing bidang mempresentasikan program kerjanya masing-masing, setelah sebelumnya dibahas per bidang masing-masing. Acara yang digelar dari jam 08.00 pagi ini berakhir samapai jam 02.00 siang.

KAMMI gelar buka bersama elemen Gerakan Mahasiswa Purworejo

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Sabtu, 06 Agustus 2011 at 07.15

Purworejo (06/8/11) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Purworejo mengadakan buka bersama dengan Gerakan Mahasiswa Purworejo. Hadir dalam acara tersebut HMI Cabang Purworejo dan IMM Purworejo.,
Acara tersebut diselenggarakan di SDIT Ulul Albab 2 Purworejo dengan agenda Kajian dengan format workshop yang diisi oleh Ust. Wahidin dari Ikadi (Ikatan Da'i Indonesia) dan diakhiri dengan buka bersama. Dalam kajian tersebut, para mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok,mendiskusikan tentang motivasi, tujuan berpuasa, dan implementasi Puasa dalam kehidupan sosial. Setelah berdiskusi, para mahasiswa menyampaikan presentasi yang diwakilkan oleh ketua kelompok masing-masing.
Ketua Kammi, Akh Dayat mengatakan bahwa tujuan diadakan acara ini adalah untuk mempererat tali silaturrahmi diantara gerakan mahasiswa di Purworejo dan harapannya Gerakan Mahasiswa di Purworejo dapat bersatu untuk memberikan kontribusi kepada Kabupaten Purworejo.

YIB-KAHMI dan PB HMI Bekerjasama Merekrut Warga HMI untuk Beasiswa ke Luar Negeri

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Kamis, 04 Agustus 2011 at 21.27

Dari pbhmi.net

Jakarta (4/8/2011) – Mulai tahun ini KAHMI Pusat, melalui Yayasan Insan-cita Bangsa (YIB), bekerjasama dengan PB HMI (MPO dan Dipo), menyelenggarakan perekrutan penerima beasiswa ke luar negeri bagi warga HMI (yang masih berstatus anggota maupun alumni) untuk program magister (S2) dan doctoral (S3). Seleksi akan berlangsung tiga tahap: tahap pertama, seleksi internal di PB HMI masing-masing; tahap kedua, seleksi di YIB-KAHMI; dan tahap ketiga, seleksi di kampus yang akan dituju di luar negeri.[

Untuk seleksi internal, PB HMI-MPO menetapkan syarat-syarat yang meliputi: Pertama, menunjukkan kartu anggota HMI dan/atau surat keterangan dari cabang asalnya; Kedua, diutamakan yang telah lulus Senior Course (SC) di HMI, pernah menjadi presidium HMI Cabang, dan/atau Ketua Umum HMI Komisariat; Ketiga, memiliki IPK 3.00; Keempat, dapat berbahasa asing dan/atau memiliki skor Test of English as a Foreign Language (TOEFL) sebesar 500 poin; Kelima, bersikap loyal terhadap HMI, baik sebelum dan setelah program ini; dan Keenam, menyerahkan makalah mengenai orientasinya tentang program ini terkait dengan aspek keislaman, kebangsaan, dan ke-HMI-an.

Jumlah total penerima beasiswa yang akan dikirim untuk angkatan pertama ini adalah 100 orang, yang merupakan gabungan dari anggota HMI-MPO, HMI-Dipo, dan KAHMI (unsur alumni). Penyeleksian akan bersifat obyektif, transparan, dan rasional, berdasarkan kemampuan masing-masing calon peserta, tanpa memandang latar belakang keanggotaannya di HMI. Calon penerima beasiswa yang dinyatakan lulus pada tahap kedua di YIB-KAHMI, akan dibekali dengan pendalaman materi khusus berupa aspek kebahasaan, keinternasionalan, dan ke-HMI-an.

Pendaftaran dilakukan melalui e-mail PB HMI: sekretariat@pbhmi.net , dengan mengirimkan bukti dalam bentuk scan, berupa: keterangan keanggotaan HMI, sertifikat SC dan kepengurusan (jika ada), dokumen IPK, dokumen skor TOEFL atau keterangan dapat berbahasa asing lainnya, dan makalah dalam format PDF (minimal 5 halaman kuarto spasi 1,5). Batas akhir pendaftaran dibuka sampai tanggal 28 Agustus 2011. Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan langsung melalui surat elektronik ke e-mail PB HMI di atas.

Konstitusi Bukan Benda Keramat

Written by HMI CABANG PURWOREJO on at 17.44

Di Cabang Purworejo, Konstitusi HMI kelihatan sangat tebal dan keramat. Saya juga jarang melihat kader yang sedang sibuk membacanya ataupun sibuk membicarakannya. Mungkin karena kelihatan tebal dan kalau bacapun tidak akan selesai, jadi banyak yang malas membacanya. Konstitusi memang kelihatan tebal, karena terdiri dari Konstitusi dasar (AD), Konstitusi Penjelas (ART), dan Konstitusi Operasional (Pedoman keanggotaan, Pedoman Kesekretariatan, Pedoman Keuangan, Pedoman Struktur Organisasi, Pedoman perkaderan.
Sejak dilantik menjadi anggota HMI, kita wajib mematuhi konstitusi dan kita telah berikrar untuk itu. Untuk mematuhi konstitusi dalam arti menjalankan apa yang ada di konstitusi kita harus memahami konstitusi tersebut terlebih dahulu, namun stigma yang melekat bahwa konstitusi itu tebal dan susah dipahami, membuat kader malas untuk memahami konstitusi. Konstitusi akan dibuka pada moment-moment tertentu seperti ketika mau seleksi LK 2 atau SC, dan menjelang Kongres.
Berikut ini cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kader dalam memahami konstitusi:
1. Mewajibkan kader HMI untuk "PUNYA" konstitusi HMI,atau paling tidak Pengurus Cabang menggandakan sebanyak-banyaknya.
2.Mengadakan kajian konstitusi secara rutin dengan Pembicara yang benar-benar memahami dan dapat membangkitkan kader dalam memahaminya.
3.Membuat Out line, Ringkasan, dan Sistematika konstitusi untuk memudahkan kader dalam memahami.
4.Membuat Buku Konstitusi yang menarik, kalau bisa gratis.
Pasca Kongres di Pekanbaru kemarin, tentunya ada revisi tentang Konstitusi HMI. Kita mengharapkan PB HMI untuk segera mempublikasikanya ke seluruh cabang se-Indonesia. Semoga seluruh kader HMI mau membacanya.

Tujuan Perkadeeran

Written by HMI CABANG PURWOREJO on at 06.29

Perkaderan HMI disusun untuk pembentukan Kader Cita HMI. Karateristik ideal tersebut terformulasi dalam ungkapan Al-Qur’an, ulul albab, dengan kualifikasi sebagai berikut:
a. Hanya takut kepada ALLAH SWT :
oBerjiwa berani dalam menghadapi tantangan dalam bentuk apapun
oTawakal kepada Allah SWT dan hanya mengharap ridha- Nya.
b. Tekun beribadah :
oTaat menjalankan ibadah mahdhah yang diajarkan Rasullullah SAW
oRajin mengerjakan amalan–amalan sunnah
oSuka bangun dan beribadah ditengah malam.
c. Memiliki ilmu dan hikmah :
oBerpengalaman luas, serta mampu berpikir rasional dan obyektif.
oMemiliki kemampuan konseptual, sehingga dapat memformulasikan dan menjelaskan apa yang diketahui dan dirasakannya.
oSanggup mengantisipasi keadaan dan siap menghadapi segala perubahan, karena memiliki daya apresiasi, prediksi dan antisipasi yang tinggi.
oMemiliki keterampilan praktikal yang menghasilkan karya–karya nyata.
d. Kritis dan teguh pendirian
oBersikap terbuka dan kritis terhadap berbagai macam pandangan.
oBersikap selektif dan apresiatif terhadap berbagai pandangan, serta inovatif untuk menciptakan karya-karya baru.
oSanggup sendirian (istiqomah) dan tidak terjebak pada pandangan mayoritas.
e. Progresif dalam berdakwah :
oBersedia berdakwah dengan sungguh-sungguh.
oSanggup dan berani menghadapi segala bentuk resiko.
oKreatif dalam strategi dan taktik berdakwah.
oMemiliki penampilan dan daya tahan fisik serta psikologis yang tinggi.
Dengan Kualifikasi Insan Ulil Albab itu maka diharapkan kader akan menjadi seorang:
Mu’abid : Kader menjadi insan yang tekun beribadah, mulai dari ibadah yang terkait pada dirinya maupun terkait pada lingkungannya.
Mujahid :Kader memiliki semangat juang yang tinggi sehingga ia memiliki pemahaman dan kemampuan berjihad dalam garis agama
Mujtahid:Kader mampu berijtihad sehingga segala tindakannya didasarkan pada pilihan sadar dari dalam dirinya
Mijadid :Kader menjadi harapan atas usaha organisasi yang memiliki kekamampuan dalam melakukan pembaharuan dilingkungan sekitarnya.

Revisi Makalah saat Liburan

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Rabu, 03 Agustus 2011 at 23.36

Purworejo(4/8/11)Beberapa Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP)meskipun liburan semester,akan tetapi hari ini mereka tetap masuk. Hal ini dikarenakan mereka harus mengumpulkan revisi makalah tugas dari mata kuliah Psikologi Pendidikan yang diampu oleh Bp. Drs. Lilik Wahyu Utomo, M.Pd.
Dosen mata kuliah tersebut memang sangat teliti dalam mengoreksi tugas makalah yang diberikan kepada Mahasiswa, baik secara penulisan maupun keaslian makalah. Banyak Mahasiswa yang harus revisi karena mempunyai banyak kesalahan baik penulisan maupun referensinya.Ini merupakan kelemahan mahasiswa sekarang yang dimanjakan oleh teknologi sehingga mereka senang Kopi paste makalah.
Seharusnya menurut jadwal, mahasiswa sudah mendapatkan KHS (Kartu Hasil Studi)akan tetapi banyak mata kuliah yang belum selesai dalam pengoreksiannya. Biasanya menjelang masuk semester berikutnya baru mereka mendapatkan KHS.

Ramadhan Momentum Menjalin Persahabatan yang Tulus dengan Allah

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Selasa, 02 Agustus 2011 at 12.40

Oleh: Masagus Fauzan Yayan, SQ

Dengan indah, Rasulullah Saw. menuntun kita cara menjalin persahabatan yang tulus dengan Allah lewat doa yang diajarkan kepada Ali bin Abu Thalib:

“… kalaupun aku sabar menanggung beban-beban penderitaan (di neraka) bersama musuh-musuh-Mu dan Kau kumpulkan aku dengan para penerima siksa-Mu, dan Kau ceraikan aku dari para kekasih dan sahabat-Mu …

Kalaupun aku, Wahai Ilah-ku, Tuanku, Sahabatku, dan Rabb-ku, sabar menanggung siksa-Mu, bagaimana kudapat sabar menanggung perpisahan dengan-Mu … kalaupun aku dapat bersabar menanggung panas-neraka-Mu, bagaimana kudapat bersabar dari melihat kemuliaan-Mu .…”

Sebuah munajat yang begitu indah dan intim dari seorang sahabat (manusia) kepada Sahabatnya Yang Agung. Jadi, meskipun posisi manusia dengan Allah tidak setara, hal itu tidak menghalangi keduanya untuk menjalin persahabatan yang erat. Bukankah persahabatan juga dapat dijalin erat antara karyawan dan direkturnya atau antara majikan dan bawahannya?

Berlandaskan persahabatan dan cinta, ibadah kita pun tak lagi seperti budak yang ketakutan atau bak pedagang yang selalu menghitung-hitung imbalan. Ali bin Abi Thalib pernah menuturkan tiga tipe orang menyembah Tuhan: Pertama, orang beribadah karena mengharapkan balasan. Ibadahnya merupakan investasi masa depan. Orientasinya untung rugi. Semakin banyak ia menjalankan ritual-ritual keagamaan semakin banyak pula imbalan dari Tuhan yang akan diterimanya. Imam Ali menyebutnya ibadah para pedagang, pebisnis.

Kedua, orang menyembah Tuhan karena takut pada siksa-Nya. Ibadah mereka sama seperti pengabdian seorang budak kepada tuannya. Ia melakukan segala tugas yang dibebankan, karena khawatir mendapat murka sang majikan bila ia melanggarnya. Ia membayangkan Tuhan, ibarat Sang pemurka yang siap menghukum hamba-Nya yang mengabaikan perintah-Nya. Orang seperti ini biasanya menjalankan ibadah hanya untuk mengugurkan kewajiban.

Ketiga, orang beribadah karena ia sadar memang seharusnya beribadah. Imam Ali menyebutnya ibadah orang merdeka. Ibadah yang dihiasi cinta dan ketulusan. Dari mana cinta yang tulus itu datang? Dari rasa syukur. Dari rasa terima kasih yang mendalam. Ibadah betul-betul menjadi bentuk syukur seorang hamba kepada Sang Pemberi kehidupan. Siti Aisyah bercerita bagaimana Nabi Saw. bangun di tengah malam. Ia terus-menerus beribadat, sambil tak henti-hentinya menangis. Sampai-sampai para sahabat bertanya mengapa Nabi harus beribadah seperti itu? Bukankah Allah telah mengampuni seluruh dosanya, yang dahulu maupun yang kemudian? Nabi berkata, “Bukankah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Profil manusia agung yang dalam hidupnya menjalani persahabatan yang tulus dengan Allah ialah Nabi Ibrahim a.s. beliau dipanggil dengan sapaan mesra: sahabat Allah. Mengapa? Karena relung-relung kalbunya diliputi cinta kepada Allah. Karena beliau meneladani sifat-sifat Allah sehingga Allah pun mencintainya dan menjadikannya sebagai khalil—sahabat dan kekasih-Nya.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Allah mengambil Ibrahim menjadi (sahabat) kesayangan-Nya.” (QS An-Nisâ’ [4]: 125)

Imam Nawawi al-Bantani menceritakan bahwa Nabi Ibrahim a.s. pernah ditanya, “Wahai Ibrahim, mengapa Allah menjadikanmu orang kesayangan-Nya?” Nabi Ibrahim menjawab, “Karena tiga perkara: pertama, aku selalu mengutamakan perintah Allah di atas perintah selain-Nya; kedua, aku tidak pernah mengkhawatirkan suatu perkara (rezeki) yang telah ditanggung oleh Allah; dan ketiga, aku tidak senang makan, baik sore hari maupun pagi hari, kecuali bersama tamu.” (Bahkan, dalam suatu riwayat, Nabi Ibrahim a.s. pernah berjalan sejauh satu atau dua mil untuk mencari orang yang mau diajak menemaninya makan).

Namun sebaliknya ketika manusia enggan bersahabat dengan Allah maka berarti mereka telah menyiksa diri sendiri dan akan mengalami perasaan hampa tanpa Kawan Sejati.Allah menegaskan dalam surah Al-Anbiyâ’ [21]: 43,

“Atau Adakah mereka mempunyai Tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka ditemani oleh kami?”

Kata yushabûn terambil dari kata shahiba, menurut sebagian ulama, berarti menemani. Teman biasanya membela dan melindungi temannya. Dari sini kata tersebut diartikan melindungi atau bahwa rahmat dan perlindungan Allah tidak menyertai dan menemani mereka.

Haidar Bagir (Buku Saku Tasawuf, 2005), mengutip ramalan seorang psikolog terkemuka abad ke-20, William James. Dalam bukunya yang terkenal, Varieties of Religious Experience yang terbit pada tahun-tahun pertama abad ke-20, dia menyatakan bahwa sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan menemukan kepuasan kecuali jika ia bersahabat dengan “Kawan Yang Agung” (The Great Socius).

Menurut W. James, selama manusia belum berkawan dengan “Kawan Yang Agung” itu, maka selama itu pula ia akan merasakan kegelisahan, kekosongan, kecemasan, dan kesepian dalam hidup. Kawan Yang Agung yang dimaksudkan oleh W. James itu adalah Tuhan.

Sekalipun temannya banyak dan pergaulannya luas, namun ia tetap merasa sepi (hampa). Ia kesepian dalam keramaian. Keterputusan dengan Tuhan menjadi penyebab timbulnya perasaan terasing, gelisah, dan sebagainya. Tuhan adalah sumber dari segala yang ada, sebagai alfa dan omega, asal dan kepada-Nya semua kembali. Karena itu, menurut Mulyadhi Kartanegara (Menyelami Lubuk Tasawuf, 2006), hanya dengan melakukan kontak terus-menerus dengan Sumber dan terus berupaya mendekatkan diri kepada-Nya, maka manusia boleh berharap mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup. Kalau tidak, berharap saja pun merupakan kemustahilan. Tuhanlah tempat kembali kita, Dialah tempat asal dan kampung halaman (tempat kita kembali) kita yang sejati. Bukankah Al-Quran sendiri berkata, “Milik Tuhanlah kita ini, dan kepada-Nya kita semua akan kembali,” (QS Al-Baqarah [2]: 156)?

Sebenarnya, sejak pertama kali dicipta hingga nyawa akan dicabut kembali, kita diajak untuk selalu berusaha mendekatkan diri dan bersahabat dengan Allah Yang Mahaagung.

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al-Fajr [89]: 27–30).

*Ketua Umum HMI Badko Inbagbar/2002-2004/ Koordinator Rumah Tahfidz Sumsel

Paguyuban Ulil Albab makin eksis

Written by HMI CABANG PURWOREJO on Senin, 01 Agustus 2011 at 20.58

Komunitas Alumni dan Paska Struktur HMI Cabang Purworejo yang tergabung dalam Komunitas Ulil Albab makin eksis, hal ini ditunjukkan dengan digelarnya acara Silaturrahmi dan rapat koperasi Ulil albab di kediaman Kanda Maryadi, Butuh, Purworejo,pada hari ahad 31 Juli 2011.
Acara yang digelar setiap bulannya ini diisi dengan berbagai acara yaitu Kultum yang dibawakan oleh tuan rumah, Arisan bulanan, dan Rapat Koperasi ulil albab. Dalam Rapat Koperasi diputuskan untuk membuka usaha bersama yaitu Bisnis Pulsa, dan dalam hal ini dikelola oleh Sdr.Deiniatur. Dengan adanya usaha ini diharapkan dapat memberikan keuntungan untuk Koperasi Ulil albab.

FIDI komandan baru HMI Purworejo

Written by HMI CABANG PURWOREJO on at 20.35

Fidi Finandar resmi dilantik sebagai Ketua umum HMI Purworejo oleh Sunarimo Darmaji selaku Wakil Sekjen PB HMI, Acara Pelantikan ini digelar pada tanggal 30 Juli 2011 di Balai Desa Kertosono, Banyuurip, Purworejo. Acara ini juga dihadiri oleh seluruh kader HMI Purworejo, Alumni HMI Purworejo, bahkan Ketua Umum HMI Cabang Sleman menyempatkan diri hadir dalam acara tersebut
Dalam sambutannya Fidi mengungkapkan bahwa HMI Purworejo akan fokus dalam pembenahan perkaderan. "Perkaderan HMI Purworejo selama ini sangat lemah, bahkan HMI Purworejo nyaris mati" imbuhnya. Selain itu dia juga mengungkapkan bahwa HMI Purworejo harus meningkatkan jumlah kuantitas dengan menyelenggarakan LK 1 atau Batra dengan frekuensi yang banyak dan kualitas yang baik.
Selain pelantikan, Acara tersebut juga diisi dengan seminar keagamaan dengan tema "Menyongsong Bulan Suci Ramadhan" yang diisi oleh Bp. Iyus Herdiana, M.Ag, Dosen UMP. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan kader HMI dalam melaksanakan ibadah Puasa agar dilakukan lebih mantap dan dengan amalan-amalan yang sesuai dengan tuntunan Al Qur'an dan Sunnah Rosul

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Blogger news


Make Widget

About the author

This is the area where you will put in information about who you are, your experience blogging, and what your blog is about. You aren't limited, however, to just putting a biography. You can put whatever you please.